Tuesday, November 3, 2009

Persiapkan dirimu dengan baik.

Ada seorang Adik di “Benar-7” yang sedang sangat gundah. Harus berkelana jauh untuk nafkah, di perantauan jauh dari keluarga, sahabat dan Wadah Ketuhanan.
Kesendirian tidak selalu perlu menjadi masalah. Ia menjadi persoalan besar karena kehilangan tempat berbagi, berkeluh kesah dan tempat mencari bimbingan.
Ia merasa tersiksa, menjerit mengatakan: “Saya bagaikan menjadi berkepribadian ganda.Walau di satu sisi mengetahui apa yang baik, tetapi di sisi lain tidak mampu untuk mengikuti dan melakukan yang baik. Saya Tidak kuasa untuk meninggalkan pikiran burukku.”


Pendahulu, Buku Suci dan Wadah Ketuhanan.
Belasan tahun yang lalu, seorang senior mengatakan kepadaku, seorang yang membina diri mempunyai tiga hal yang tidak boleh ditinggalkan. Ketiganya merupakan ‘perlindungan’ yang baik: Pendahulu, Buku Suci dan Wadah Ketuhanan.

Sering sudah kita mendengar hal tersebut. Kita mengetahuinya. Mungkin itulah sebabnya kita Nien Cing, kita minum teh dan bersenda gurau bersama pendahulu, kita selalu ke fothang.

Namun miris rasanya melihat beberapa adik, tetap tidak berdaya, dipermainkan dan terseret ke sana kemari, tergulung oleh kerasnya ombak kehidupan yang tidak pandang bulu.
Mereka selalu sepenuh hati, bersemangat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Wadah Ketuhanan, namun mengapa tetap sulit menghadapi kerasnya kehidupan. Adakah yang salah dengan Wadah Ketuhanan? Adakah yang salah dengan pembinaan diri? Jelas tidak.. Lalu dimana letak kesalahannya?

Ternyata kesalahannya adalah, walau kita akrab dengan pendahulu, kita tidak pernah menjadikannya teladan, tidak memperoleh inspirasi yang cukup dari mereka. Kita sering mengabaikan kesalahan kecil yang kita lakukan pada saat kesalahan tersebut masih mudah dibenahi, sampai akhirnya kesalahan tersebut telah menjadi persoalan yang akut dan sulit disembuhkan. Hanya sesudahnya kita mencari pendahulu, seakan pendahulu adalah dukun bagi segala persoalan.
Saat kepada kita ditunjukkan apa yang menjadi kesalahan kita, kita justru mangkir dan selanjutnya menghindar. Kita gagal menumbuhkan cukup rasa hormat agar dapat meminta bantuan pendahulu untuk membukakan kran potensi diri kita.

Ternyata kesalahannya adalah kita menghafal kitab suci tertentu. Padahal sebenarnya yang perlu kita lakukan adalah membacanya, merenungkannya, memahaminya, menghayatinya, selanjutnya menjalankannya dan menggunakannya sebagai panduan bagi kehidupan diri sendiri, dan juga orang lain.
Kesalahannya adalah karena Buku Suci tidak dipergunakan sepenuhnya menjadi nara sumber bagi proses pembelajaran, kisah perjalanan para suci gagal dipergunakan sebagai acuan dalam pencarian akan kebenaran.

Ternyata kesalahannya terletak kita yang terpanggil datang ke wadah Ketuhanan adalah karena kegiatannya “seru”. Sehingga walau terlibat dalam berbagai aktifitasnya, tetapi tidak terjadi kegiatan wadah Ketuhanan menjadi ‘sarana pemurnian diri’.
Aktifitas Wadah Ketuhanan seyogyanya tidak hanya mengasah kemampuan kita untuk mengatur dan mengkoordinasi kegiatan; Lebih penting lagi, kita meminjam berbagai kegiatan Ketuhanan untuk mengasah kepekaan, memperhalus kepribadian, mempertajam pengendalian diri, dan menegakkan kebajikan.

Sekolah, guru, kurikulum dan fasilitasnya semuanya boleh jadi bagus, tapi apakah kita sudah dan benar-benar belajar????
Kita gagal untuk menyadari ternyata ke-3 hal tersebut adalah hanya Pengawal/Pembina, Pelajaran dan fasilitas/sarana bagi pembinaan dan pengembangan diri, bukan pembinaan diri itu sendiri. Kualitas dan hasil pembinaan diri tetap saja sangat bergantung kepada masing-masing Individu.

IQ, EQ dan CQ/SQ

Kita jarang merenungkan tentang berbagai tantangan dan kesulitan di depan. Sehingga tidak heran bila kita tidak menyiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya. Lupakan tentang membantu mempersiapkan adik-adik untuk menyongsong masa depan.

Hidup adalah bagaikan suatu permainan.
Hidup dapat saja menjadi menyenangkan, tetapi hanya bagi mereka yang paham akan peraturan dan berbagai karakteristiknya.
Tetapi akan bagaikan sebuah jebakan, sebuah pusaran lumpur, penjara bagi mereka yang tidak memahami ‘hidup’, yang tidak menguasai aturan umum yang ditetapkan ‘hidup’.
Hidup akan bersahabat dengan siapapun yang datang dengan persiapan dan tulus terhadapnya.
Tetapi akan menjadi musuh menakutkan bagi yang tidak perduli dan meremehkannya.

Andrew_Carnegie menyatakan hal ini tentang hidupnya:
Pergunakan 1/3 bagian pertama dari kehidupan untuk belajar apa saja, mempersiapkan segalanya untuk menghadapi kehidupan.
Pergunakan 1/3 bagian yang kedua untuk bekerja sekeras-kerasnya, mengumpulkan apa saja dari kehidupan.
Pergunakan 1/3 bagian terakhir dari kehidupan untuk memberikan, menyumbangkan, mendedikasikan segala yang telah dikumpulkan dalam kehidupan bagi kemudahan hidup orang lain.

Itu adalah bagi Carnegie. Miris terkadang melihat hidup sebagian orang, pada usia belia tidak belajar dan menyiapkan apa-apa, pada usia menengah tidak mampu mengumpulkan cukup banyak dari kehidupan, pada usia tua kemudian terseot-seot dan menjadi beban bagi kehidupan orang lain.

Jadi apa yang harus dipersiapkan?
Segalanya.
Mulai dari mempersiapkan pengetahuan, mempersiapkan kesehatan Jiwa dan Raga, memperbesar kapasitas hati, dan jangan abaikan kebugaran fisik.
Semuanya.

Saat kepada Nipun Mehta ditanyakan apa yang mengantarkan dirinya kepada apa yang telah ia capai. Nipun mengatakan
“Kombinasi manis dari IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient) dan CQ (Compassion Quotient) ”.
Kehadiran IQ membuat seseorang disebut cerdas
Saat ditambah dengan EQ membantu terwujudnya kebahagiaan
Tapi hanya dengan dilengkapi SQ/CQ dapat mengantarkan hidup menjadi bernilai.
Dan ketiganya sebenarnya dapat dipersiapkan.


Lebih banyak ttg iq, eq dan sq dapat dibaca di sini.


dari ketiganya SQ paling kurang dipahami, untuk secara kasar mengukur SQ mu silahkan coba ini

Sudahkah siapkah saya?
Sudahkah Anda????

.

Friday, October 30, 2009

Tolonglah ganggu saya!!




Disturb Me, Please!
oleh Margaret Wheatley
(Oct 26, 2009)
http://www.ijourney.org/index.php?tid=659

Saat kuliah dulu, ada seorang dosen yang mendorong kami untuk berusaha mengenali apa yang mengangetkan dan mengganggu diri. Jika kita dikagetkan oleh pernyataan tertentu, itu menunjukkan kita berasumsi bahwa sesuatu yang lainlah yang benar. Jika kita merasa terganggu oleh sebuah komentar, itu menunjukkan bahwa kita meyakini hal lainlah yang benar.

Menyadari dan mengenali apa yang mengganggu diriku adalah merupakan lensa yang sangat luar biasa, yang membantu melihat ke dalam diri, apa yang saya pegang erat sebagai keyakinanku. Saat saya terguncang oleh sudut pandang dan keputusan orang lain, saya mempunyai kesempatan untuk menelaah sudut pandangku dengan lebih jernih. Saat saya mendengar diriku menyatakan, "Mengapa ada orang yang bisa mempercayai sesuatu seperti ini?!", bersamaan sebuah pintu terbuka bagiku untuk melihat apa yang kupercayai.

Saat saat "terguncang" ini adalah merupakan sebuah pemberian luar biasa. Dengan membuat keyakinanku terlihat, mereka memungkinkan diriku untuk secara sadar memilih mereka sekali lagi, atau sebaliknya merubahnya.

Bayangkan apa yang akan terjadi, bila secara bersama-sama, saling mendengarkan komentar satu sama lain, didasari kesediaan untuk membuka diri, dan tidak semata selalu ingin memperkokoh pendapat dan apa yang diri sendiri yakini. Bayangkan bila kita secara terbuka, bersedia mendengarkan satu sama lain, dengan kesadaran bahwa setiap orang memang melihat dunia dengan cara uniknya sendiri-sendiri. Bayangkan pertumbuhan seperti apa yang akan didapat, bila saya dapat senantiasa mempelajari sesuatu yang berbeda daripada terus memaksakan kesamaan. Sebenarnya kita mendapatkan banyak kesempatan seperti itu dalam satu hari, setiap harinya.

Apa yang akan bisa kita lihat, kita pelajari, kita ciptakan bersama, bila kita menjadi pendengar seperti ini, yang menikmati perbedaan dan terbuka terhadap guncangan dan 'gangguan'? Pada awalnya, kita akan sedikit takjub dengan sedemikian banyaknya perbedaan. Dan kemudian kita akan merasa sangat nyaman saat menyadari betapa kita menjadi semakin dekat, karena setiap kali saling mendengarkan dengan baik, kita saling mendekat.

Dari pemikiran-pemikiran yang baru dan teman-teman baru, kita akan menjadi semakin bijak. Kita akan mendapatkan hasil yang lebih banyak bila bersama menekuni dunia yang 'aneh' dan 'membingungkan' ini. Juga menjadi tidak terlalu menakutkan dan tidak kesepian. Kita akan bersama, disatukan oleh perbedaan dan bukannya dipisahkan.

Bila kita bersedia untuk terganggu oleh sesuatu yang baru daripada terus melekat pada kepastian masa lalu,
bila kita bersedia untuk mendengarkan mereka yang melihat dunia secara berbeda,
maka keluar-biasaan akan terjadi.
Kita belajar bahwa kita tidak perlu untuk saling setuju untuk dapat menjelajah bersama.
Tidak perlu kita selalu sama dalam isi otak, asalkan kita bisa bersatu dalam hati.

***

Sunday, October 4, 2009

Nipun Mehta

Siapa Saya ?
Sejak 31 dec 1975, saya telah dipanggil sebagai Nipun Mehta. Sebagaimana ilmu pengetahuan mengatakan bahawa saya pada dasarnya adalah 99.9% ruang hampa dan 0.1% getaran dengan aliran yang konstan. Jadi, secara teknis saya adalah seorang pencari jawaban atas pertanyaan ini.

Apa yang telah saya lakukan dalam hidup?
Saat di Sekolah menengah, saya mengantar koran. Saat di sekolah atas, tujuan hidup saya adalah menjadi petenis profesional atau menjadi Yogi di Himalaya. 17 tahun kehidupanku telah berubah dalam berbagai cara yang tidak bisa saya jelaskan dalam satu kalimat. Sesudahnya, saya mendapat gelar dari UC Berkeley di bidang Computer Science and Philosophy. Sebuah pekerjaan di Sun Microsystems pada tahun ketiga kuliahku menghasilkan uang jauh lebih banyak dari yang saya bisa pergunakan. Jadi saya lakukan satu-satunya cara yang memungkinkan, - memberikannya. Saya memberikan sedikit uang, kemudian sedikit waktu, dan kemudian seluruh diriku.

Pada April 1999, 3 sahabat bergabung bersamaku dalam sebuah project untuk membangun sebuah website bagi tempat penampungan mereka yang tidak punya rumah; yang dilakukan itu kemudian dikenal sebagai CharityFocus. Sekarang, ada 8500 relawan terlibat dalam aksi cinta kasih dalam dan dengan berbagai cara. CharityFocus masih sepenuhnya dijalankan dengan suka rela; pada 2001, Saya mengundurkan diri dan menjadi relawan penuh waktu. Saat itu saya tidak mempunyai mempunyai rencana untuk mampu bertahan lebih dari 6 bulan, tetapi sejauh ini semuanya baik-baik saja. :)
Sekitar pertengahan 2004, saya menikah dengan inspirasiku -- Guri Grewal. Ikrar pernikahan dari upacara pemberkahan sembilan-keyakinan kami adalah sumber pembelajaran, demikian juga dengan kisah bulan madu kami. :)

Saling mencintai menyatukan kami, tetapi Guri dan Saya tinggal bersama adalah agar bisa mencintai yang lain secara bersama-sama. Jadi pada Januari 2005, kami menggandakan taruhan. Kami meninggalkan segalanya menuju sebuah perjalanan dengan akhir yang terbuka luas, perjalanan (kaki) ibadah tanpa skenario, menyeberangi India, "untuk menggunakan tangan kami untuk melakukan kebaikan apa saja, menggunakan kepala (pengetahuan) untuk menjadi teladan yang menginspirasi siapa saja, dan menggunakan hati kami untuk mengembangkan kebenaran(dharma-truth)."


Untuk informasi lebih jauh dari Nipun boleh ke personal bio.


Serba serbi..
Saya percaya untuk melakukan sesuatu dengan sepenuhnya. saya termasuk yang paling muda saat kuliah pada usia 17 tahun, tapi lulus hanya sesudah 21 tahun, karena menghabiskan beberapa tahun untuk bermain tenis :) saat 11 tahun, saya bermain roller skating dan menjadi yang kedua secara nasional. Sebagai pemain baru, saya pernah mengalahkan seorang Master dari Russia dalam permainan catur. Pada hari pertamaku bermain ski, saya menaklukkan sebuah turunan dengan tingkat kesulitan black diamond.`

Saya tidak percaya kepada kebetulan. Lima perjalanan, lima lama Tibet yang tidak bisa berbahasa Inggris secara random datang ke rumah kami semalam sebelum untuk pertama kalinya saya muncul di depan TV: sebuah interview Live setengah jam bersama CNN International. saya bertemu dengan seorang Shankracharya, di jalanan India. Dan , di New York, saya ngobrol setengah jam dengan Richard Gere.

Full name: Nipun Mehta
Age: 34
Hometown: Berkeley, Calif.
Current position: Founder, CharityFocus.org
First job: Paper route with the San Jose Mercury News
Favorite job: Current one
Education: B.S. in Computer Science/Philosophy, Univesity of California at Berkeley Years in the industry: About 12 in technology, 10 in nonprofit
How I got here in 10 words or less: By coupling IQ with EQ and CQ (compassion quotient).
Best advice: "You won't solve all the problems of the world, but just make sure you aren't a problem for the world to solve."; "Be the change you wish to see."
Skills you need: "Ability to be useful to everyone, using your intellect creatively, and learning design principles from nature."
Where you should start: "Wherever you are. Think about what makes you come alive, and start doing it. You'll be surprised at how life organizes itself around your deepest beliefs."


utk Q&A lain ttg Nipun ada di kkc.
http://www.agoodideasf.org/nipunmehta.html



.

Saturday, September 26, 2009

KE-EMPAT BELAS LATIHAN KESADARAN

14-mindfulness dalam bentuk power point slide.


(dari Interbeing Oleh Thich Nhat Hanh)

Latihan Kesadaran Pertama: Keterbukaan
Sadar akan penderitaan yang diakibatkan oleh fanatisme dan ketidak-toleran, kita berdeterminasi untuk tidak berlebihan mengidolakan atau terkekang kepada doktrin, teori atau ideology tertentu. Ajaran Para Buddha adalah merupakan panduan yang membantu kita untuk mempelajari kehidupan secara mendalam dan mengembangkan pemahaman dan welas kasih. Mereka bukan merupakan suatu doktrin yang perlu diperjuangkan, atau malah perlu membunuh atau rela mati untuknya.

Latihan Kesadaran Kedua: Ketidakmelekatan terhadap pandangan
Sadar akan penderitaan yang diakibatkan oleh kemelekatan kepada pandangan dan persepsi yang salah, kita berdeterminasi untuk menghindari pandangan yang sempit dan terkekang oleh pandangan yang sekarang. Kita akan belajar dan melatih ketidakmelekatan terhadap pandangan, agar menjadi terbuka terhadap pemahaman dan pengalaman orang lain. Kita sadar bahwa pengetahuan yang sekarang dimiliki bukanlah suatu kebenaran mutlak yang taktergantikan. Kebenaran ditemukan dalam kehidupan, dan kita siap untuk mengamati kehidupan ke dalam dank e sekeliling kita, pada setiap saat, siap untuk belajar sepanjang hidup.

Latihan Kesadaran Ketiga: Kebebasan Berpikir
Sadar akan penderitaan sebagai akibat dari kita memaksakan pendapat kepada orang lain, kita berkomitmen untuk tidak memaksa orang lain, termasuk kepada anak-anak kita, dengan cara apapun – baik dengan otoritas, ancaman, uang, propaganda maupun indoktrinasi untuk mengadopsi pandangan kita. Kita akan menghargai hak orang lain untuk menjadi berbeda dan memilih apa yang akan menjadi keyakinannya dan semua keputusannya.
Kita tentu saja akan, membantu yang lain untuk meninggalkan fanatisme dan kepicikannya dengan berlatih secara mendalam dan terlibat dalam dialog yang penuh dengan welas kasih.

Latihan Kesadaran Keempat: Kesadaran akan Penderitaan
Dengan merenungkan secara mendalam esensi dari ‘penderitaan’, dapat membantu kita untuk mengembangkan welas kasih dan mencari jalan untuk keluar dari penderitaan.
Kita akan berdeterminasi untuk tidak menghindari penderitaan atau menutup mata kita dari penderitaan. Kita berkomitmen untuk mencari jalan, termasuk kontak pribadi, wujud maupun bunyi, untuk bersama mereka yang menderita, sehingga kita dapat memahami situasi mereka dengan mendalam dan membantu mereka mentransformasi penderitaan mereka ke dalam welas kasih, perdamaian dan kegembiraan.

Latihan Kesadaran Kelima : Kesederhanaan, Kehidupan yang Sehat
Sadar bahwa kebahagiaan yang sebenarnya adalah berakar pada perdamaian, solidaritas, kebebasan dan cinta kasih, tetapi bukan pada kekayaan dan ketenaran.
Kita berdeterminasi untuk tidak mempunyai tujuan hidup yang didasari ketenaran, keuntungan, kekayaan atau kesenangan sensual, dan tidak mengumpulkan kekayaan sementara jutaan yang lain kelaparan dan menghadapi kematian.
Kita berkomitmen untuk hidup sederhana dan membagi waktu kita, energy dan sumber daya materi dengan mereka yang membutuhkannya.
Kita akan mempraktikkan kebiasaan konsumsi yang penuh kesadaran, tidak memabukkan diri dengan alcohol, obat-obatan atau produk-produk apapun yang meracuni diri kolektif kita, fisik maupun kepekaan.

Latihan Kesadaran Keenam : Menghadapi Kemarahan
Sadar bahwa kemarahan akan menjadi halangan dalam berkomunikasi dan menciptakan penderitaan,
kita berdeterminasi untuk mengendalikan energy kemarahan begitu ia muncul, mengenalinya, dan mentransformasi benih-benih kemarahan yang tersembunyi mendalam pada kesadaran kita.
Saat kemarahan muncul, kita berdeterminasi untuk tidak melakukan atau menyatakan apapun, sebaliknya segera menenangkan diri, segera mengenali, ‘menyatu’ dan mengamatinya kemarahan ini dengan mendalam.
Dengan demikian kita akan belajar, dengan mata cinta kasih mengamati diri kita sendiri juga mereka yang kita anggap sebagai penyebab kemarahan kita.

Latihan Kesadaran Ketujuh: Hidup Berbahagia pada Saat Sekarang
Sadar bahwa kehidupan hanyalah ada pada saat sekarang ini dan adalah memungkinkan untuk hidup berbahagia di sini pada saat sekarang ini, kita berkomitmen untuk melatih diri kita untuk hidup ‘sepenuhnya’ pada saat sekarang, pada keseharian hidup.
Kita akan berusaha untuk tidak terhanyut oleh penyesalan maupun kebanggan akan masa lalu, kekhawatiran terhadap masa depan, ataupun ketamakan, kemarahan ataupun rasa iri pada saat sekarang. Kita akan senantiasa menarik kembali kesadaran agar hanya hidup pada saat sekarang.
Kita berdeterminasi untuk mempelajari hidup yang penuh kesadaran dengan menyentuh berbagai elemen yang penuh kemukjijatan, menyegarkan dan menyembuhkan yang tersedia di dalam diri maupun di sekitar kita, dan dengan menumbuhkan benih kegembiraan, perdamaian, cinta dan pengertian dalam diri kita, dengan demikian memfasilitasi transformasi dan penyembuhan terhadap kesadaran kita.

Latihan Kesadaran Kedelapan: Komunitas dan Komunikasi
Sadar bahwa komunikasi yang lemah selalu mengakibatkan perpisahan dan penderitaan, Kita berkomitmen untuk melatih diri dalam pendengaran yang penuh welas kasih (karuna) dan pembicaraan yang penuh cinta kasih (metta).
Kita akan belajar untuk mendengar dengan mendalam tanpa menghakimi atau bereaksi dan tidak akan
Akan menyatakan apapun yang akan mengakibatkan ketidak-nyamanan atau menyebabkan perpecahan pada komunitas.
Kita akan melakukan apapun untuk memungkinkan terbukanya komunikasi. berkonsiliasi dan menyelesaikan semua konflik, yang sekecil apapun.

Latihan Kesadaran Kesembilan: Pembicaraan yang Berdasarkan Kebenaran dan Kasih
Sadar bahwa pembicaraan bisa mengakibatkan penderitaan maupun kebahagiaan, kita berkomitmen untuk berusaha berbicara dalam kebenaran dan yang membangun, hanya menggunakan kata-kata yang memberi harapan dan meningkatkan rasa percaya diri.
Kita berdeterminasi untuk tidak menyatakan hal yang tidak benar untuk kepentingan pribadi ataupun membuat orang lain terkesan, ataupun menyatakan hal yang akan mengakibatkan perpecahan dan kebencian.
Kita juga tidak akan menyebarkan berita yang kita tidak yakin akan kebenarannya ataupun mengkritik apalagi sampai menghujat sesuatu yang kita tidak tahu kepastiannya.
Sebaliknya kita akan berusaha yang terbaik untuk berbicara tentang ketidakadilan, walaupun itu akan mengancam keselamatan kita.

Latihan Kesadaran Kesepuluh: Melindungi Sangha (Komunitas Pembinaan Diri)
Sadar bahwa esensi dan tujuan dari sebuah komunitas pembinaan diri adalah untuk membina pemahaman dan welas kasih, kita berdeterminasi untuk tidak pernah menjadikan komunitas pembinaan diri bagi kepentingan/keuntungan pribadi, lebih lagi tidak menjadikannya sebagai instrumen politik.
Sebuah komunitas pembinaan diri perlu mengambil posisi yang jelas dalam menghadapi opresi ataupun ketidakadilan dan harus berjuang untuk merubah keadaan tanpa secara langsung terlibat dalam konflik partisan.

Latihan Kesadaran Kesebelas: Sumber Kehidupan yang Benar
Sadar bahwa kekerasan dan ketidak-adilan telah terjadi terhadap lingkungan dan masyarakat, kita berkomitmen untuk tidak terlibat dalam pola hidup yang akan menyakiti manusia maupun alam.
Kita akan melakukan yang terbaik untuk memilih suatu sumber kehidupan yang membantu tercapainya idealisme sesuai pemahaman dan welas kasih kita.
Sadar akan keadaan ekonomi global, realitas politik dan social, kita akan berperilaku secara bertanggung –jawab sebagai konsumen dan sebagai warga, untuk tidak mendukung badan/perusahaan yang menindas hak hidup orang lain.

Latihan Kesadaran Keduabelas: Menghormati Kehidupan
Sadar bahwa demikian banyak penderitaan yang telah diakibatkan oleh perang dan konflik, kita berdeterminasi untuk membina ‘tanpa-kekerasan’, lebih pengertian, dan welas kasih dalam keseharian hidup, untuk mendukung pendidikan tentang perdamaian, melatih kesadaran, dan rekonsiliasi/keutuhan keluarga, komunitas, bangsa dan dunia.
Kita berdeterminasi untuk tidak membunuh dan tidak mengakibatkan yang lain untuk membunuh.
Kita akan dengan rajin melakukan pencarian, bersama komunitas pembinaan diri kita untuk melindungi kehidupan dan menghindari peperangan.

Latihan Kesadaran Ketigabelas: Kemurahan Hati
Sadar bahwa penderitaan yang disebabkan oleh eksploitasi, ketidak-adilan social, pencurian dan opressi, kita berkomitmen untuk membina cinta kasih dan terus mencari cara untuk bekerja demi kelayakan hidup bagi banyak orang, hewan, tumbuh-tumbuhan dan mineral.
Kita akan melatih kemurahan hati untuk berbagi waktu, energy, dan sumber daya materi dengan mereka yang membutuhkannya.
Kita berdeterminasi untuk tidak mencuri dan juga tidak memiliki apapun yang seharusnya menjadi milik orang lain.
Kita akan menghormati kepemilikan orang lain, tetapi juga berusaha mencegah kejadian dimana ada yang mengambil keuntungan di atas penderitaan manusia ataupun makhluk lainnya.

Latihan Kesadaran Keempatbelas: Perilaku yang Benar
Sadar bahwa sebuah hubungan yang terjadi semata-mata dalam 'kegilaan' tidak akan pernah mengakhiri perasaan kesepian, tetapi sebaliknya akan mengakibatkan lebih banyak lagi penderitaan, frustasi dan terkucil,
Kita berdeterminasi untuk tidak terlibat dalam suatu hubungan sexual tanpa kesepahaman bersama, cinta dan komitmen jangka panjang
Dalam membangun suatu hubungan, kita harus memahami penderitaan di masa yang akan datang yang bisa diakibatkan oleh sebuah ‘kealpaan’ diri kita.
Kita tahu bahwa untuk mempertahankan kebahagiaan untuk diri sendiri maupun orang lain, harus dimulai dengan menghormati hak dan komitmen diri sendiri maupun dia yang lain.
Kita harus dan akan melakukan segala sesuatu dalam batas kemampuan kita untuk melindungi anak-anak dari kekerasan, dan mencegah pasangan dan keluarga menjadi terpecah belah, apalagi bila adalah disebabkan oleh pola perilaku seksual yang salah.
Kita harus dan akan memperlakukan raga kita dengan penuh hormat dan menujukan energy kita (vitalitas, kekuatan dan semangat) untuk pencapaian idealism bodhisattva kita.
Kita harus sepenuhnya sadar akan tanggungjawab dari membawa kehidupan baru ke dunia ini, dan akan merenungkan keadaan dunia tempat kita akan mengantar kehidupan yang baru ini.